AH. Yani Elbanis : Profesi Wartawan Terbilang Istimewa - Gerbang Nusantara News

20 Maret 2022

AH. Yani Elbanis : Profesi Wartawan Terbilang Istimewa


Oleh: AH. Yani Elbanis

Profesi ini terbilang istimewa, karena tersirat dari nama sebuah surat wahyu Nabi Muhammad Shollollahu 'alaihi wasallam, yaitu al Qur'an adalah An-naba'

Kata an-Naba' punya arti kegiatan pemberitaan dan orang yang menyampaikan itu disebut an-Nabi. Keduanya punya akar bahasa sama yakni memberitakan atau mengabarkan. 

Jadi profesi  wartawan itu layaknya seperti Nabi mendapat tempat khusus dalam Al-Qur,an.

Kosakata An-Naba' sendiri disebut sampai 142 kali dalam  Al-Qur’an dengan pengertian selalu terkait pemberitaan baik yang sudah terjadi untuk menjadikan hikmah pelajaran hidup, maupun belum terjadi agar menyiapkan bekal hidup sesudah mati.

Profesi wartawan bisa dikatakan unik bila dibandingkan dengan profesional lainnya. Selain jalan yang dilakoninya berliku penuh hambatan dan rintangan kerikil tajam, namun dilewatinya meskipun terkadang harus berdarah untuk mendapatkan sebuah fakta berita yang dianggapnya menarik dalam mengungkap kebenaran. 

Tidak semua orang bisa melakoni profesi ini. Tugasnya, kalau boleh saya umpamakan ibarat seorang Nabi yang menyampaikan kabar atau berita, tapi memang tidak sama, bedanya jika Nabi menerima pesan (message) atau teks dari Allah melalui wahyu, perantara malakait Jibril. 

Sedangkan wartawan itu mendapatkan berita dari hasil pencariannya melalui investigasi, baik dengan cara reportase atau melihat secara langsung dari suatu peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar kemudian dirangkum dalam tulisan disiplin ilmu jurnalistik. 

Secara etiomogi Nabi berasal dari bahasa Arab (naba'a, nabi, red) yang berarti seorang penyampai berita. Wartawan adalah penyampai berita. Namun masalahnya ketika Nabi menerima pesan dari Tuhan yang sudah sampai ke tangan kita melalui kitab samawi, ia menyesuaikan teks redaksional bahasa Tuhan tanpa mengurangi isi subtansi dari pesan tersebut. 

Sebab Andaikan Nabi itu menyampaikan pesan Tuhan dengan bahasa redaksional-NYA mungkin suatu kaumnya kurang bisa memahaminya (verstehend). Karena itu disini diperlukan seorang penterjemah untuk memahami pesan-NYA yang dalam hal ini adalah menjadi tugas Nabi sekaligus sebagai juru bicara Tuhan untuk mendialogkan bahasa-NYA kepada manusia dengan bahasa ummi, agar supaya pesan itu mudah dipahami. Meskipun begitu bukan berarti Nabi sesuka hatinya mengubah pesan Tuhan, walaupun dalam ilmu musthola'ah hadits ada firman Allah yang disampaikan Nabi tapi tidak termasuk Al Quran disebut hadits qudsi.

Dalam kajian ilmu hermeneutik, ada tiga hal untuk memahami teks (wahyu) Tuhan, pertama Tuhan sebagai subjek nara sumber pesan, kedua Nabi sebagai objek penyampai teks, ketiga audien (masyarakat). Ketiganya ini saling berkaitan, misalnya Tuhan memberikan pesan kepada Nabi, maka Nabi menyampaikannya kepada audien dengan logika bahasanya sendiri. Mungkin ada yang berfikir kalau begitu Nabi bisa seenaknya merubah pesan Tuhan berdasarkan seleranya. Tentu tidak demikian. 

Sebab Nabi saat menyampaikan pesan-NYA kepada umatnya ia tidak mengubah subtansi dari maksud dan tujuan pesan tersebut. Untuk mendialogkan bahasa Tuhan pada masyarakat maka Nabi melakukan berbagai pendekatan, misalnya melalui tradisi,sosial, budaya,dan karakteristik kepribadian yang sesuai dengan kondisi masyarakat pengikutnya, dengan harapan mereka ini bisa memahami pesan Tuhan.

Ilmu Hermeneutik diambil dari kisah mitologi Hermes dari Yunani, konon ceritanya Hermes dipercaya oleh Dewa untuk menyampaikan pesannya kepada manusia. Hermes ketika menerima pesan dari Dewa, ia tidak menggunakan bahasa Dewa melainkan dengan gaya bahasanya sendiri agar lebih mudah dicerna dan dipahami oleh masyarakatnya. 

Dalam perkembangannya, hermeneutik inilah dalam pembahasan ilmu filsafat dijadikan oto kritik untuk mentelaah kebenaran teks kitab suci kuno.

Kalau saja Nabi menyampaikan teks Tuhan berdasarkan bahasa-NYA, mungkin kita (maaf) tidak akan pernah bisa memahami pesan-NYA yang ada didalam berbagai kitab suci agama samawi. Saat ini saja meskipun pesan-NYA sudah tertulis di berbagai kitab samawi ternyata masih menimbulkan pemahaman yang berbeda, bahkan tak jarang malah memutar balikkan fakta dari kebenaran teks kitab suci. 

Saya tidak ingin terlalu jauh membahas perdebatan sengit perbedaan cara pandang memahami teks kitab suci samawi, tapi cukuplah bahwa masalah itu menjadi perbincangan hangat di kalangan cendikiawan agamawan. Akibat perbedaan menangkap kebenaran kitab suci samawi ini kemudian melahirkan banyak paham dan firqoh (aliran), namun muaranya bertujuan sama yaitu ingin memahami masksud tersirat dan tersurat dari pesan Tuhan tersebut.

Tetapi seandainya masa kenabian itu belum berakhir, masih terbuka maka tidak akan ada perbedaan dalam memahami kitab suci, karena kita bisa secara langsung bertanya kepada Nabi tentang bagaimana sesungguhnya memahami pesan Tuhan?. 

Era kenabian memang sudah tiada dan kini yang tertinggal adalah jejak pencarian teks pesan Tuhan yang ada di kitab suci samawi, sehingga dalam memahaminya maka diperlukan sebuah pendekatan ilmu hermeneutik atau dalam Islam dikenal ilmu tafsir. 

Dan agama-agama di belahan dunia ini tentu sudah mempunyai tafsirnya sendiri yang didasarkan pada keyakinannya masing-masing.

Dalam konteks kewartawanan, tentu jika ingin memahami realitas dari suatu peristiwa sosial, budaya, politik yang terjadi harus berbijak pada pondasi/kode etik yang menjadi landasan dalam melaksanakan tugas profesi ini. 

Artinya ketika wartawan menjalankan tugasnya, maka ibarat seorang Nabi saat menerima pesan teks dari Tuhan, dia tidak boleh mengurangi atau menambah isi pesan Tuhan seperti yang telah diuraikan diatas. Demikian pula wartawan dalam menjalankan tugasnya maka mereka harus objektif dalam memberitakan apa adanya isi dan maksud sumber berita.

Dari kaitannya dengan tinjauan hermeneutik,wartawan adalah subjeknya, dan peristiwa atau kejadian ialah objek teksnya, sedangkan media cetak elektronik menjadi audien sebagai wahananya untuk mendialogkan kepada pembaca yang bebas memberikan penilaian penafsirannya. 

Sehingga jika secara terminologi pemahaman wartawan itu ibarat seorang Nabi maka ia harus memiliki kejujuran dalam menyampaikan pesan berita ke publik. 

''Wallahu a'lam bisshawab''.


AH. Yani Elbanis adalah Owner WartaNU.online, jurnalis Gresik sejak 2000 sampai sekarang, saat ini mengembangkan Media: ' Public Service Opinion' naungan PT Media Online Berita Kota

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda