Pembukaan Pameran Tunggal Malya Sasmaya "Dialog Batik Madura" Berlangsung Meriah: Full Pengunjung, Dihadiri Kurator Terkemuka Nirwan Dewanto
SURABAYA, BN News - Setelah karya-karyanya melanglang buana sejak usia 3 tahun, perupa muda dari Sanggar DAUN Surabaya, *Malya Sasmaya* (usia 17 tahun), memilih untuk pulang. Bukan ke Surabaya, tapi ke seberang Jembatan Suramadu.
*Sanggar DAUN* dengan bangga mempersembahkan pameran tunggal pertama Malya Sasmaya bertajuk *"DIALOG BATIK MADURA"*.
Jika nama Malya sebelumnya dikenal lewat prestasi internasional - Gold Medal Youth for Human Rights International,
Gold Medal The Small Montmartre of Bitola Macedonia, pameran di Look and Learn Gallery London, hingga ARTJOG KIDS yang pertama tahun 2023 - maka pameran ini adalah titik balik yang paling personal.
Berangkat dari satu pertanyaan besar: *"Is culture something we inherit or something we must choose to keep?"*, Malya melakukan riset atau lebih tepatnya _observasi_ selama satu tahun di sentra Batik Tulis Tanjung Bumi, Bangkalan Madura. Hasilnya adalah tak kurang dari 20 karya baru dengan medium yang sangat khas: cat akrilik, kolase batik tulis Madura asli terutama motif Tanjung Bumi di atas kanvas. Namun karena keterbatasan ruang galeri, maka kali ini Malya hanya bisa menampilkan total 8 karya dalam rata-rata ukuran yang menantang !
*STATEMENT SENIMAN - MALYA SASMAYA:*
> "Awalnya aku cuma suka warnanya. Merah Madura itu berani banget, beda dari batik lain. Tapi setelah aku ke Tanjung Bumi dan ketemu langsung ibu-ibu pembatiknya, aku baru paham.
> Mereka membatik dari jam 4 pagi sampai malam, dengan mata yang sudah tidak terlalu melihat, tapi tangannya masih hafal setiap cecek dan motif ayam alas. Mereka cerita, anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mau melanjutkan karena tidak menjanjikan uang.
> Disitu aku jadi bertanya, apa budaya itu sesuatu yang otomatis kita warisi, atau sesuatu yang harus kita pilih untuk kita jaga?
> Di pameran ini aku tidak ingin batik cuma jadi kain cantik yang ditempel. Aku ingin berdialog dengannya. Kadang aku biarkan batiknya yang mendominasi, kadang aku lawan dengan cat akrilikku yang abstrak dan kasar. Karya yang paling besar, 'Dialog Tanjung Bumi', yang langsung terlihat dari pintu masuk, adalah caraku bilang: aku melihat kalian, aku menghormati kalian, dan aku tidak mau kalian hilang.
> _I believe in preserving what already exists. Holding on to stories time tries to erase. Because someday when it fades, will we even notice what we've lost?_
> Pameran ini adalah pilihanku untuk menjaga."
*Tiga Karya Kunci Pameran:*
*1. "Dialog Tanjung Bumi" (200x180 cm)* - Karya manifesto di pintu masuk galeri. Malya membingkai batik utuh dengan biru laut yang luas, lalu mengintervensi dengan satu goresan merah menyala sebagai tanda kehadirannya.
*2. "The Beauty of Batik Madura" (100x100 cm)* dan *"Merahnya Merah" (180x145 cm)* - Dua karya yang mengeksplorasi kehadiran dan esensi. Satu membiarkan batik mengerut dan mengalir seperti baru diangkat dari bak celup, satu lagi meleburkan motif menjadi bilahan-bilahan merah yang membara - simbol keberanian Madura.
*3. "Fragmen" (20x20 cm x 12 panel)* - Seri tanpa kolase kain sama sekali. Ruang jeda untuk merasakan jiwa batik tanpa tubuhnya.
Kurator pameran, Arik S. Wartono, menjelaskan:
> "Ini bukan pameran tentang batik. Ini adalah pameran tentang dialog. Dialog antara dua tangan dan dua zaman: tangan perupa muda Surabaya yang abstrak dengan tangan pembatik perempuan Madura yang sabar. Malya tidak menjadikan batik sebagai artefak mati di museum. Ia menghidupkannya kembali di atas kanvas masa kini. Seperti yang ia katakan sendiri: _'I believe in preserving what already exists. Holding on to stories time tries to erase.'_"
Pameran "Dialog Batik Madura" adalah sebuah ajakan. Bahwa menjaga kebudayaan tidak cukup hanya dengan mewarisinya. Kita harus memilih untuk menjaganya, setiap hari. Jika tidak, seperti tulis Malya di karya videonya: _"And someday when it fades, will we even notice what we've lost?"_
Pameran terbuka untuk umum dan gratis.
*INFORMASI PAMERAN:*
Judul: DIALOG BATIK MADURA - Pameran Tunggal Malya Sasmaya
Seniman: Malya Sasmaya dari Sanggar DAUN Surabaya
Kurator: Arik S. Wartono
Tempat: Galeri Merah Putih, Jl. Gubernur Suryo Nom 15, Balai Pemuda Surabaya.
Tanggal: 26 September - 1 Oktober 2026
Jam Buka: 10.00 - 21.00 WIB
Opening: 26 September 2026, 16.00 - 21.00 WIB
Pameran dibuka oleh Hidrochin Sabaruddin, sejarawan Bangkalan, Madura
Free HTM, pameran terbuka untuk umum.
Surabaya, 26 September 2026
Arik S. Wartono
_Kurator, pendiri dan pembina Sanggar DAUN_

















