Polewali Mandar, GNN gerbangnusantaranew.com
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia melakukan tinjauan lapangan terhadap ketahanan kebudayaan masyarakat transmigran Jawa di Sulawesi Barat, dan mendapati bahwa keberhasilan transmigrasi tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan identitas budaya yang mereka bawa. Salah satu simbol ketahanan itu tampak nyata melalui kelompok kesenian Turonggo Wahyu Budoyo (TWB) yang diprakarsai oleh Supriyono, dengan anggota mencapai 40 orang, menjadi pusat kebudayaan Jawa yang tetap hidup di tanah Sulawesi, 29 November 2025.
Bagi para transmigran Jawa, Sulawesi bukan sekadar tempat membuka lahan baru atau memperbaiki taraf hidup. Sulawesi adalah ruang untuk hidup kembali sebagai orang Jawa membawa budaya, kebiasaan, bahasa, dan dunia simbolik mereka, lalu menanamkannya di tanah baru hingga tumbuh menjadi warisan antargenerasi. Kesenian kuda lumping yang dimainkan oleh TWB tidak hanya menjadi hiburan; ia adalah penanda identitas, penegas sejarah migrasi, dan medium penyatu komunitas.
Dalam kunjungannya, Tim Ekspedisi Patriot UI menyaksikan bagaimana TWB menjadi wadah ketahanan kultur serta berfungsi sebagai kelembagaan ekonomi-budaya yang hidup, yang memastikan tradisi Jawa tidak hanya lestari, tetapi juga berdaya secara sosial dan ekonomis. Melalui TWB, tim belajar bagaimana suatu kebudayaan bisa bertahan karena tiga unsur yang berjalan berdampingan: sumber daya manusia yang stabil, penerimaan masyarakat setempat terhadap identitas budaya Jawa, dan tata kelola kelompok yang efektif. Semua unsur ini menciptakan jaringan supply–demand sosial—kebutuhan akan hiburan, kecintaan pada tradisi, hingga fleksibilitas dalam memadukan budaya yang membuat TWB tetap diminati, diberdayakan, dan dihormati.
Di kampung Jawa di Sulawesi Barat, kesenian kuda lumping bukan artefak masa lalu, melainkan tradisi yang masih dihidupi oleh generasi ketiga dan keempat. Para keturunan transmigran tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif yang menjaga ritme sosial-komunal desa. Identitas mereka dibentuk oleh akar Jawa sekaligus oleh pembauran dengan budaya Mandar, Bugis, Toraja menciptakan bentuk akulturasi yang unik dan terus berkembang.Ketahanan budaya itu juga tercermin dari dunia kuliner. Dalam keseharian, warga keturunan Jawa masih mempertahankan gastronomi khas Jawa Timur seperti rempeyek dan oseng-oseng daging, tetapi bersanding dengan kuliner Mandar seperti pupuq. Perpaduan rasa ini memperlihatkan bahwa transmigrasi menghasilkan bukan sekadar perpindahan penduduk, tetapi juga pembentukan ruang budaya baru berbasis adaptasi dan kreativitas.
Anggota Tim Ekspedisi Patriot, Sabrina Aprilianingrum, menegaskan pentingnya dimensi budaya dalam memahami transmigrasi. “Melihat Turonggo Wahyu Budoyo membuat kami paham bahwa transmigrasi tidak hanya memindahkan penduduk, tetapi juga memindahkan ingatan budaya. Di sini, generasi ketiga dan keempat Jawa tetap menjaga identitas mereka dengan cara yang sangat hidup. Bagi kami, ini adalah bukti bahwa kebudayaan bisa bertahan karena ada kebanggaan, ada ruang sosial yang menerima, dan ada komunitas yang terus merawatnya,” ujarnya.
Bahasa pun menjadi pilar penting dalam mempertahankan identitas. Meskipun tingkatan bahasa Jawa krama tidak lagi dikuasai generasi muda, bahasa Jawa ngoko tetap menjadi bahasa interaksi sehari-hari di rumah dan lingkungan sekitar. Hal ini menjadi bukti bahwa transmigrasi bukan hanya memindahkan tubuh, tetapi juga memindahkan bahasa yang terus hidup dalam ruang domestik dan sosial.
Tim Ekspedisi Patriot UI yang terdiri dari Mohammad Ridha, Levi Nur Cahyani, Sri Diaskandhi, Aghnia Sahala Rizky, dan Sabrina Aprilianingrum menilai bahwa keberhasilan transmigrasi Jawa di Sulawesi Barat tidak hanya dilihat dari kemajuan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menciptakan ruang budaya yang terus bertahan. Kekuatan komunitas ini bukan hanya pada tangan-tangan yang membuka sawah dan kebun, tetapi juga pada kemampuan mereka menjaga identitas, kebanggaan, dan warisan budaya di tanah rantau, serta membangun kelembagaan budaya seperti TWB yang tetap hidup dan memberi manfaat sosial-ekonomi bagi warganya.

